Lembutlah Wahai Pendidik..

SERI KISAH #1

[Lembutlah Wahai Pendidik..]

~KisahKasihAnakAsuh

Dia, anak kecil berumur 5 tahun, seorang yatim. Sehari-hari hidup bersama neneknya yang renta. Menurut cerita dari kerabatnya, ibu anak ini bekerja di sebuah pabrik agak jauh dari rumah, hanya pulang setiap akhir pekan.

Tahun ajaran ini, dia masuk ke Raudhotul Athfal yang kami kelola. Sebuah TK islam yg baru kami dirikan tahun ini di desa kami, setelah sebelumnya kami dan teman-teman kami mendirikan TKIT dan SDIT di tengah kota dalam 8 tahun terakhir. Yaa… tentu saja tujuan kami, sasaran kami adalah saudara-saudara kami sendiri, keluarga dan tetangga-tetangga, agar dapat menerima dakwah sunnah.

Anak ini setiap harinya adalah anak yang ‘aktif’, selalu berlari kesana kemari, menabrak kawan-kawannya yang berbaris rapi, berteriak-teriak, kegiatan apapun di kelas tidak dia ikuti. Berbagai cara menarik, dari permainan engklek, tali, lempar bola, dan lain-lain dilakukan utk memulai pelajaran tiap pagi. Tapi anak ini tetap tidak bergeming. Saat digandeng dan diajak baik-baik justru bentakan serta kata-kata yang tak pantas yang keluar dari mulutnya.

Saya yang pernah menggantikan guru-guru mengajar (ketika guru sakit) pun sampai kehabisan akal dan kesabaran. Jika saya ikut menggantikan mengajar, selalu oleh-oleh migrain yang saya bawa pulang ke rumah… jiaan benar-benar saya tidak cocok jadi guru TK. Saya berusaha lembut tetapi dia acuh, saya tegas anak ini malah gedor-gedor pintu kelas dan lompat jendela. Bahkan saya pernah digajul. MaasyaAllah.. guru-guru kewalahan, tapi saya salut pada mereka para guru yang tetap bisa sabar walaupun gigitan mendarat ditangan saat mengajak anak ini mengikuti kegiatan kelas.

Sempat saya berfikir jangan-jangan anak ini mengalami ADHD… ahh tapi saya harus menggali lebih dalam. Tapi sayang, ibunya yang saya tunggu tiap berangkat dan pulang sekolah tidak kunjung datang. Anak ini pergi sekolah sering jalan kaki sendiri dari rumah neneknya, sehingga rencana saya menggali permasalahan anak ini tidak berjalan lancar. Berdasar info yang ada, sebelum masuk TK ini dia pernah bersekolah di dua TK yang lainnya, dan selalu tidak betah hingga akhirnya keluar.

Pagi ini, saat saya datang ke sekolah, anak-anak dan bu guru sedang olahraga di halaman TK. Dari kejauhan ibu guru memberi isyarat pada saya untuk masuk ke ruang kelas. Di dalam kelas saya mendapatkan seorang anak tergeletak di atas karpet tempat bermain balok, di pinggir kelas.

Siapa lagi kalau bukan dia… Ya, dia si anak ‘aktif’ ini. Saya pegang kepalanya.. panas. Badan anak ini menggigil kedinginan.

“Mas, mau ibu antar pulang? Kamu sakit, tidak usah sekolah”
Dia menggeleng.
Saya duduk di sampingnya.
” ibumu ada di rumah?”
Dia menggeleng pelan
“Siapa yang ada di rumah? ”
“Mboke( neneknya) ”
“Yuk, ibu antar”
Dia tetap menggeleng.

Akhirnya saya meminta kotak P3K pada ibu guru. Saya meminta parasetamol untuk anak ini.

“Ayo, bangun sebentar, minum obatnya”
Dia bangun.. kemudian meminum obat syrup yang saya tuangkan untuknya.

Bulir-bulir air mata bening menetes dari sudut matanya….

Saya heran… eh, ternyata anak ini bisa nangis. Padahal biasanya dia yang membuat nangis teman-temannya dan ibu gurunya.

Dia segera menyeka air matanya, meminum segelas air putih yang sodorkan untuknya kemudian tidur di atas bantal yang diambilkan bu guru. Saya tinggalkan dia pulang

Siang tadi, sepulang merapikan TK, bu guru mampir ke rumah saya. Selain urusan sekolah bu guru juga bercerita.
“Bu, tadi setelah ibu kasih obat beberapa saat anak itu keringetan, dan kembali bugar. Dia mendekati saya dan bilang.. bu, ternyata bu dokter baik ya, gak galak ya.” (padahal biasanya anak ini agak takut dengan saya karena saya selalu tegas padanya).

“Seharian ini dia jadi anak yang penurut, mau ikut hafalan dan murojaah, mau ikut membatik, pokoknya hebat”, begitu Bu guru panjang lebar bercerita..

MasyaAllah, batu yang keras pun akan berlubang dengan tetesan air terus menerus, apalagi hati anak manusia, sekeras apapun akan luluh dengan kasih sayang.

Saya bersyukur anak ini berada di tengah-tengah kami. Meski hanya sebuah sekolah sederhana yang ala kadarnya, yang bahkan dengan biaya sekolah murah meriah pun ternyata masih banyak yang tidak mampu dan membutuhkan beasiswa.

Ya, ini adalah salah satu potret anak asuh KIA. Yang dengan uluran tangan semua donatur, biidznillah akhirnya mendapatkan kesempatan merasakan kehangatan kasih sayang orang-orang disekitarnya, para guru, dan juga teman-temannya.. mungkin biaya sekolah anak ini tak seberapa nilainya jika kita melongok isi dompet kita. Tapi bayangkan, betapa besar manfaat sedikit rupiah ini untuknya. Anda mungkin tak pernah membayangkan, bahwa “60 ribu rupiah” bisa menaklukkan kerasnya batu, bahkan insya Allah bisa mengubah batu jadi lebih bermanfaat, _biidznillah_.

Semoga donasi ibu asuh KIA padanya tidak hanya memberikan padanya kesempatan untuk belajar, tetapi juga memberi seteguk kasih sayang yang dapat mengobati ruang kosong dalam jiwanya. Ruang yg makin lama makin penuh terisi dan tidak menyisakan ruang untuk tumbuhnya keburukan.

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺷَﻜَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺴْﻮَﺓَ ﻗَﻠْﺒِﻪِ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ: ﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺩْﺕَ ﺗَﻠْﻴِﻴْﻦَ ﻗَﻠْﺒِﻚَ ﻓَﺄَﻃْﻌِﻢِ ﺍﻟْﻤِﺴْﻜِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻣْﺴَﺢْ ﺭَﺃْﺱَ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴْﻢِ

Dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seseorang yang mengeluhkan kerasnya hati kepada Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_, lalu beliau berkata kepadanya:

“Jika engkau ingin melembutkan hatimu, maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak
yatim.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)

Dan KIA bahagia, bisa berjalan bersamanya, menggandeng anak-anak yang tertatih menyongsong masa depan

~~~~
📋Penulis :
dr. Yuni Srihastuti
– Pengurus Raudhatul Athfal (RA) Ibnu Umar Boyolali
– Bendahara Komunitas Ibu Asuh (KIA)

_____
🌷Komunitas Ibu Asuh🌷
“Dari Muslimah untuk Generasi Sunnah”

Yuk, ikut donasi untuk anak-anak asuh KIA di seluruh Indonesia

🌐 www.ibuasuh.org
Fanpage FB : Komunitas Ibu Asuh
IG : Komunitasibuasuh
📱/ :
0813-9109-4353
0813-2857-5800

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *